Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
LINGKARJATIM.MY.ID LINGKARJATIM.MY.ID

Akurat, Berimbang, Terpercaya

LINGKARJATIM.MY.ID LINGKARJATIM.MY.ID

Akurat, Berimbang, Terpercaya

  • HOME
  • PERISTIWA | HUKUM
  • PENDIDIKAN | KESEHATAN
  • POLITIK | PEMERINTAHAN
  • SOSIAL | BUDAYA
  • ENTERTAINMENT
  • LIFE STYLE
  • NEWS
  • KONTAK
  • HOME
  • PERISTIWA | HUKUM
  • PENDIDIKAN | KESEHATAN
  • POLITIK | PEMERINTAHAN
  • SOSIAL | BUDAYA
  • ENTERTAINMENT
  • LIFE STYLE
  • NEWS
  • KONTAK
Close

Search

  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
NEWS

Pulang Liburan, Disambut Hutan Palsu di Bandara, Kok Jadi Sedih?

By LINGKARJATIM
Februari 19, 2026 3 Min Read
0

Roda pesawat akhirnya mencium landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta. Guncangan halus itu resmi menandai berakhirnya long weekend dan liburan yang seru.

Bagi saya dan suami, ini tandanya kembali ke realitas macetnya Ibu Kota. Tapi bagi anak-anak? Pertunjukan justru baru dimulai.

Saat kami berjalan menyusuri terminal kedatangan yang kini makin glowing, mata mereka langsung berbinar. Dinding-dindingnya hijau, tertutup lumut nan asri.

Si kecil bahkan langsung lari ke arah layar LED raksasa. Di sana, visual hutan tropis ditampilkan dengan resolusi tinggi, lengkap dengan ikan-ikan digital yang berenang santai.

“Ibu, ayo foto di sini! Bagus banget!” serunya antusias.

Saya tersenyum, mengeluarkan ponsel, dan memotret tawa riang mereka. Sejenak, saya bangga. Gerbang negara kita terlihat begitu modern, hijau, dan sejuk.

Tapi, rasa bangga itu mendadak luntur saat saya teringat artikel yang baru saja saya baca di pesawat. Ada rasa sesak yang aneh: Kita sedang merayakan keindahan hutan di dinding bandara, padahal hutan di peta Indonesia sedang sekarat.


Jebakan Estetika yang Membuai

Jujur saja, siapa sih yang nggak suka lihat bandara yang asri?

Ini memang tren global, namanya desain biofilik. Tujuannya mulia: bikin penumpang rileks setelah penerbangan panjang.

Memang, nggak semuanya palsu. Kalau kita melipir ke area luar terminal, masih ada taman-taman dengan pohon asli yang menyegarkan mata. Itu patut kita apresiasi.

Tapi masalahnya, di dalam ruangan yang sejuk ber-AC itu, kita disuguhi kenyamanan visual dari tanaman fabrikasi dan hutan digital.

Kita jadi merasa “cukup”. Kita terbuai. Seolah-olah Indonesia masih sehijau itu. Padahal, hutan di layar LED itu punya tombol refresh. Kalau bosan, tinggal ganti gambar.

Beda nasibnya dengan hutan di Kalimantan atau Papua. Hutan asli nggak punya tombol ‘undo’. Sekali ia hilang dibabat alat berat, butuh ratusan tahun untuk memulihkannya.


Data yang Bikin Dahi Berkerut

Mari kita bicara fakta sebentar, mumpung pikiran masih segar habis liburan.

Data tahun 2024 kemarin saja sudah bikin elus dada. Indonesia kehilangan sekitar 260 ribu hektare hutan primer dalam waktu singkat.

Coba bayangkan luas Jakarta, lalu kalikan empat. Ya, seluas itulah hutan kita yang lenyap tahun lalu.

Yang bikin lebih nyesek, tren deforestasi yang sempat turun, eh, malah naik lagi dalam tiga tahun terakhir ini.

Dan sedihnya, banyak dari pembukaan lahan ini statusnya legal. Paru-paru dunia dibuka demi izin konsesi dan proyek-proyek strategis.

Sebagai orang tua, data ini bukan cuma angka di kertas. Ini ancaman buat masa depan anak-anak saya yang sedang asyik berfoto di depan LED tadi.


Jangan Sampai Anak Kita Cuma Tahu Hutan dari Layar

Momen kecil di bandara tadi jadi tamparan keras buat saya.

Anak-anak mengira Indonesia selamanya hijau, seindah tembok terminal itu. Kepolosan mereka adalah tanggung jawab kita, orang-orang dewasa.

Bingung juga rasanya. Bagaimana cara menjelaskan ke mereka kalau hutan di dinding itu nggak bisa nyimpan air hujan?

Bagaimana bilang ke mereka kalau visual harimau di layar itu, rumah aslinya di Sumatera sana sedang digusur?

Saya nggak mau anak-anak kita nanti lebih hafal spot foto instagramable di bandara ketimbang nama-nama Taman Nasional di negerinya sendiri.

Pendidikan lingkungan nggak cukup lewat buku sekolah. Kita harus jujur soal realitas ini. Jangan sampai mereka cuma kenal hutan dari balik kaca jendela yang dingin.


Stop ‘Green Staging’, Mulai Peduli Beneran

Kita sepertinya sedang terjebak dalam apa yang disebut green staging atau panggung hijau. Di etalase depan kayak bandara atau acara internasional, negara kita kelihatan peduli banget sama lingkungan. Hijau royo-royo.

Tapi di halaman belakang? Kebijakan perlindungan alam seringkali longgar. Hutan asli mundur teratur, digantikan kebun sawit atau tambang.

Ini bahaya, teman-teman. Kita jadi gagal bedain mana ruang publik yang cantik, dan mana kebijakan lingkungan yang beneran melindungi.

Kita merasa sudah “cinta lingkungan” cuma karena lihat banyak pot tanaman di gedung kantor. Padahal di pedalaman sana, hutan lagi “nangis”.


Resolusi Pasca-Liburan

Mumpung semangat awal tahun masih terasa, yuk kita bikin resolusi yang beda. Jangan cuma resolusi diet atau karier aja.

Masukkan nasib hutan dalam daftar prioritas kita. Caranya?

Jadilah traveler yang kritis. Pilih destinasi wisata yang beneran jaga alam, bukan yang ngerusak demi viral sesaat.

Kita juga harus lebih cerewet sama klaim “hijau” dari produk atau perusahaan. Jangan gampang percaya label ramah lingkungan tanpa bukti.

Suara kita itu mahal. Entah lewat petisi, dukungan ke lembaga konservasi, atau pilihan kita saat pemilu nanti. Itu rem pakem buat laju kerusakan alam.

Silakan nikmati indahnya dekorasi bandara Soekarno-Hatta. Yang sebenarnya tetap bagus untuk cuci mata. Tapi, jadikan dinding hijau itu pengingat, bukan pengganti.

Jangan sampai kita sibuk tepuk tangan lihat hutan di layar LED, sementara hutan yang beneran yang selama ini telah memberikan kita napas justru pelan-pelan mati tanpa suara.

Tags:

SOSIAL | BUDAYA
Author

LINGKARJATIM

Follow Me
Other Articles
Previous

5 Legenda Musik yang Tinggal Satu Anggota Asli

Next

Perjuangan Ira: Menerima dan Mencintai Anak dengan ADHD

No Comment! Be the first one.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tentang Situs Ini

Lingkarjatim.my.id merupakan portal informasi yang menghadirkan berita, cerita, dan berbagai topik menarik dari Jawa Timur hingga seantero Nusantara bahkan Sejagat Raya, dikemas secara informatif dan mudah diakses oleh masyarakat.

Cari

Pos Terkini

  • Wakil Ketua DPRD Jatim Puji Apresiasi Pemprov Usai Kembali Meraih Opini WTP dari BPK RI
  • Heboh Isu Pungli di SMAN 1 Bojonegoro, Wakil Ketua DPRD Jatim Sri Wahyuni Turun Tangan Langsung di SMAN 1 Bojonegoro
  • Sri Wahyuni: Nilai-Nilai Pancasila Harus Menjadi Benteng Bangsa Hadapi Tantangan Global
  • Sri Wahyuni Apresiasi Langkah Pemprov Jatim Jaga Stok Pangan dan Hewan Kurban
  • Sri Wahyuni Tegaskan DPRD Jatim Komitmen Kawal Normalisasi Afvour Macanan di Tuban

Temukan Kami

Alamat
Jl. Jend. Sudirman 8
Jakarta Pusat, Jakarta 10110

Jam Buka
Senin—Jumat: 09:00–17:00
Sabtu & Minggu: 11:00–15:00

Tentang Situs Ini

Ini bisa jadi ruang yang tepat untuk memperkenalkan diri dan situs Anda, atau menuliskan daftar penghargaan.

Pos Terkini

  • Wakil Ketua DPRD Jatim Puji Apresiasi Pemprov Usai Kembali Meraih Opini WTP dari BPK RI
  • Heboh Isu Pungli di SMAN 1 Bojonegoro, Wakil Ketua DPRD Jatim Sri Wahyuni Turun Tangan Langsung di SMAN 1 Bojonegoro
  • Sri Wahyuni: Nilai-Nilai Pancasila Harus Menjadi Benteng Bangsa Hadapi Tantangan Global
  • Sri Wahyuni Apresiasi Langkah Pemprov Jatim Jaga Stok Pangan dan Hewan Kurban
  • Sri Wahyuni Tegaskan DPRD Jatim Komitmen Kawal Normalisasi Afvour Macanan di Tuban
Copyright 2026 — LINGKARJATIM.MY.ID. All rights reserved.