Pejabat Iran Ejek Pernyataan Trump soal Penyerahan Diri dan Peran Pemimpin Baru
Ringkasan Berita:
- Trump mengeluarkan pernyataan bahwa satu-satunya kesepakatan yang bisa tercapai dengan Iran adalah melalui penyerahan diri tanpa syarat dari negara tersebut
- Trump juga mengatakan dirinya perlu terlibat dalam proses pemilihan pemimpin Iran berikutnya, setelah Ali Khamenei tewas dalam serangan AS-Israel di Iran.
- Abas Aslani mengatakan, pernyataan Trump meminta Iran menyerah dan agar dia memiliki peran dalam memilih pemimpin Iran berikutnya itu disambut dengan “sikap penolakan mutlak” oleh Iran.
LINGKARJATIM.MY.ID, – Peneliti senior di Pusat Studi Strategis Timur Tengah, Abas Aslani, menyinggung soal tuntutan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump tentang penyerahan diri dan perannya dalam memilih pemimpin baru Iran.
Trump sebelumnya mengeluarkan pernyataan bahwa satu-satunya kesepakatan yang bisa tercapai dengan Iran adalah melalui penyerahan diri tanpa syarat dari negara tersebut untuk mengakhiri konflik yang sedang berlangsung.
Pernyataan Trump ini mencuat saat Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, sebelumnya mengindikasikan bahwa serangan AS terhadap Iran akan meningkat secara dramatis, menambah panasnya situasi geopolitik di Timur Tengah saat ini.
Selain itu, Trump juga mengatakan bahwa dirinya perlu terlibat dalam proses pemilihan pemimpin Iran berikutnya, setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei tewas dalam serangan AS-Israel di Iran.
Para pejabat Iran, kata Abas Aslani, lantas mengejek pernyataan Trump tentang penyerahan diri dan perannya dalam memilih pemimpin berikutnya itu.
Dia mengatakan, pernyataan Trump tersebut telah disambut dengan “sikap penolakan mutlak” oleh Iran.
“Kita melihat bahwa Iran memberi sinyal keberlanjutan daripada perubahan,” kata Aslani kepada Al Jazeera, dikutip pada Sabtu (7/3/2026).
“Mereka mengatakan bahwa Majelis Pakar yang berwenang memilih pemimpin utama, dan para pejabat Iran telah mengejek pernyataan-pernyataan Amerika Serikat tersebut,” katanya.
“Kita telah melihat, katakanlah, kepercayaan diri dalam retorika di Teheran selama beberapa hari terakhir, dan mereka tidak memberikan sinyal perubahan apa pun untuk terlibat dengan Amerika Serikat,” tambah Abas Aslani.
Adapun, selama beberapa hari terakhir ini, Iran diketahui masih menunda pengumuman mengenai pemimpin tertinggi yang baru.
Meski demikian, pernyataan dari sejumlah politikus Iran beberapa waktu lalu menunjukkan bahwa pengumuman tersebut kemungkinan akan segera dilakukan.
Iran Siap Perang Jangka Lama dan Tutup Pintu Damai
Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naeini, menyatakan bahwa Iran siap berperang dalam jangka waktu lama dengan AS-Israel.
Naeini pun mengatakan Iran sepenuhnya siap untuk “perang berkepanjangan” dan siap untuk memperkenalkan persenjataan canggih yang belum pernah digunakan dalam konflik tersebut.
Dia juga menegaskan bahwa musuh-musuh Iran “harus mengharapkan pukulan yang menyakitkan” dalam gelombang serangan baru yang akan datang.
“Inisiatif dan senjata baru Iran sedang dalam perjalanan. Teknologi-teknologi ini belum diterapkan secara luas,” katanya, dikutip dari Al Jazeera, Jumat (6/3/2026).
Naeini juga mengatakan bahwa Iran kini lebih siap dibandingkan perang 12 hari tahun lalu yang dilancarkan oleh AS dan Israel.
Dia bahkan menggambarkan konfrontasi militer yang sedang berlangsung sebagai “perang suci dan sah”.
Sementara Duta Besar (Dubes) Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, sebelumnya juga mengatakan negaranya menutup pintu damai atas serangan yang dilakukan AS maupun Israel.
Atas dasar itu, Boroujerdi memastikan Iran akan membereskan AS dan Israel di lapangan perang.
“Kali ini Iran akan membereskan pihak musuh di lapangan perang,” kata Boroujerdi dalam acara doa bersama dan penandatanganan petisi Solidaritas Kemanusiaan di Kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (5/3/2026), dikutip dari Kompas TV.
Boroujerdi menjelaskan, keputusan Iran untuk menyelesaikan konflik dengan AS dan Israel di lapangan perang karena sudah tidak percaya dengan negara tersebut.
Sebab dalam tiga kali negosiasi yang dilakukan Iran terhadap negara barat itu, serangan tetap dilakukan.
“Iran sudah tiga kali melakukan negosiasi dan hasilnya iran tetap diserang,” ucap Boroujerdi.
Boroujerdi juga sempat dikonfirmasi perihal Presiden Prabowo Subianto yang siap menjadi mediator perdamaian bagi Iran dan AS-Israel.
Dia mengungkapkan Iran tidak ingin ada negosiasi dalam bentuk apapun dengan pihak AS maupun Israel, karena Iran sudah tidak percaya lagi dengan AS dan Israel, serta menganggapnya musuh.
(/*)