Mangkunegara VI: Raja Reformis yang Mundur dari Kursi Kekuasaan
Mangkunegara VI dikenal sebagai raja reformis di kalangan Pura Mangkunegaraan. Dia melakukan efisiensi dan menolak intervensi Belanda. Dia mengakhiri kekuasaannya dengan mengundurkan diri dan pindah ke Surabaya.
Dia memang tak sepopuler penguasa-penguasa sebelumnya seperti Mangkunegara I dan Mangkunegara IV, tapi Mangkunegara VI punya peran sentral dalam mereformasi kondisi ekonomi Kadipaten Mangkunegaran. Dia juga sosok berwatak keras, terbukti dengan keputusannya mundur sebagai adipati Pura Mangkunegaran karena ogah disetir oleh Belanda.
Ada fakta sejarah menarik dari buku berjudul Ras, Kelas, Bangsa: Politik Pergerakan Antikolonial di Surabaya Abad ke-20 karya Andi Achdian. Di salah satu bab, dia menyinggung soal keberadaan Raja Mangkunegara VI sebagai salah satu kelompok elite pribumi di Surabaya. Dia pindah ke Surabaya setelah memutuskan turun takhta dan menyerahkannya kepada sang keponakan, Mangkunegara VII.

“Keluarga kerajaan ini tinggal di kawasan elite Palmlaan di pusat kota, mewakili salah satu kelompok elite pribumi Surabaya. Putranya, R.M.H. Seojono kemudian menjadi salah satu pendiri Studi Klub Indonesia (SKI) bersama dr. Soetomo,” tulis Andi Achdian.
Mangkunegara VI lahir dengan nama RM Suyitno atau KPA Dayaningrat. Dia adalah adik KGPAA Mangkunegara V dan naik takhta menggantikan kakaknya pada 1896-1916 dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara VI.
Saat naik takhta, usianya 40 tahun. Jika sang kakak sangat giat membangun kesenian, Mangkunegara VI adalah sosok yang sangat fokus pada keuangan dan kondisi ekonomi kerajaan. Kas kerajaan yang pada zaman kakaknya hampir kosong, gemuk lagi setelah Mangkunegara VI berkuasa.
Yang dia lakukan efisiensi, menyingkirkan segala macam kebutuhan yang tidak terlalu utama tapi sangat mengisap keuangan. Pada masa Mangkunegara VI ini, utang kerajaan yang ditinggalkan pendahulunya dapat dilunasi.
Mangkunegara VI juga mereformasi banyak hal, termasuk fesyen. Di antaranya, dia mempelopori model rambut pendek dengan memotong rambutnya sendiri serta mewajibkan semua pejabat serta kawula untuk tidak memanjangkan rambut, terutama bagi laki-laki.
Salah satu yang bisa dibilang radikal, Mangkunegara VI juga yang memberi izin bagi kerabat Pura Mangkunegaran untuk memeluk agama Kristen.
Apa saja gebrakan ekonominya? Misalnya, sejak 1 Juni 1899, dia menerapkan kebijakan bahwa semua kepengurusan perusahaan Mangkunegaran kembali lagi ke Praja Mangkunegaran yang dikendalikan langsung oleh Mangkunegara VI yang memisahkan antara keuangan perusahaan dan keuangan kerajaan. Dengan begitu, semua perusahaan berada dalam kontrol seorang superintendent dan, yang paling signifikan, campur tangan Belanda dalam keuangan perusahaan berakhir.
Dia juga mengubah sektor ekonomi pedesaan yang tradisional menjadi modern. Caranya dengan memperbanyak perkebunan kopi, nila, atau tebu di wilayah Praja Mangunegaran. Kondisi ini tentu saja membuatnya banyak berselisih residen Belanda di Surakarta.
Tapi sayang, kebijakannya yang anti-Belanda membuat akhir pemerintahan Mangkunegara VI berakhir dengan kurang baik – terutama dalam hal suksesi. Sejatinya, dia berkehendak menjadikan putranya, KPA Seojono Handajaningrat sebagai penerusnya, tapi diveto oleh kelompok kerabat Pangeran dan pihak Belanda. Karena tidak mau berkonflik, dia memilih mengundurkan diri dan pindah ke Surabaya – di sana dia menjadi seorang pengusaha.
Kabarnya, dia mengundurkan diri secara diam-diam lalu berangkat ke Surabaya bersama seluruh anggota keluarga. Seojono sendiri, sebagaimana disebut dalam Ras, Kelas, Bangsa, ikut mendirikan Studi Klub Indonesia (SKI) di Surabaya bersama dr. Soetomo. Beberapa sumber juga menyebut dia aktif dalam Budi Utomo di kota tersebut.
Sejarawan sekaligus Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (UI) Bondan Kanumoyoso dalam acara peluncuran buku Mangkunegoro VI, Sang Reformis pada November 2021 lalu mengatakan bahwa Mangkunegara VI adalah seorang entrepreneurship. “Jadi mungkin itulah yang membuat Mangkunegara VI tidak terlalu dikenal. Karena warisannya bukan suatu karya atau suatu legacy berupa institusi politik. Warisannya itu sebetulnya adalah sebuah teladan,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari National Geographic Indonesia.
Dia menambahkan bahwa banyak orang lebih memperhatikan aspek kekuasan politik para penguasa sehingga keunggulan aspek kewirausahaan yang dimiliki raja Jawa seperti Mangkunegara VI jadi agak diabaikan dan kurang dikenal. Terlebih lagi, dia satu-satunya raja Mangkunegaran yang mengundurkan diri.
Selain memperbaiki ekonomi kerajaan yang sudah mengalami krisis sejak masa pemerintah raja Mangkunegara V, Mangkunegara VI juga mereformasi bidang budaya. Pria yang nama kecilnya adalah Raden Mas Suyitno ini juga dikenal sebagai penguasa yang mementingkan aspek pendidikan, termasuk pendidikan untuk kaum wanita, sebagaimana disampaikan oleh Krisnina Maharani, pemerhati budaya sekaligus pemilik Rumah Budaya Keratonan, dalam acara yang sama.
“Mangkunegara VI juga mendirikan pendidikan. Dia itu mengatakan pikiran itu yang mengubah kita, membedah perilaku kita, mengelola perilaku kita. Kalau pikiran kita baik, tingkah laku kita juga baik,” tuturnya.
Mangkunegara VI adalah putra Mangkunegara IV yang dikenal sebagai raja terkaya di Pulau Jawa saat itu. Meski begitu, kata Bondan, dia memiliki sikap hidup yang efisien, sederhana, dan tidak suka foya-foya, sebagaimana dikutip dari Kompas.ID.
Masih menurut Bondan, penguasa atau bangsawan di masa lalu mempunyai kecenderungan untuk menunjukkan status sosial. Baik lewat pesta, makanan berlimpah, maupun lainnya. Hal ini membuat mereka boros. Keuangan kerajaan pun terpengaruh. Krisis ekonomi suatu kerajaan, tambahnya, tidak melulu disebabkan oleh perang, tetapi juga gaya hidup penguasanya.
Ketika Mangkunegara VI naik takhta, kondisi keuangan Mangkunegaraan sedang tidak baik-baik saja, bahkan mendekati nol. Tak hanya itu, mereka juga punya utang pada Belanda yang harus dibayar.
Karena itulah, yang pertama-tama dilakukan Mangkunegara VI adalah melakukan efisiensi di banyak lini, termasuk memotong anggaran-anggaran yang tidak perlu, seperti untuk pesta. ”Inovasi, kreativitas, dan berbagai strategi untuk mengatasi kesulitan hidup itu lebih penting daripada keinginan menampilkan diri dan pencitraan. Ini warisan beliau yang paling besar, esensi lebih penting daripada penampilan,” ucap Bondan.
Mangkunegara VI wafat pada 25 Juni 1928 saat berusia 71 tahun. Dia tak dimakamkan di Astana Mangadeg atau Astana Girilayu sebagaimana raja-raja Mangkunegaran yang lain, tapi di Astana Oetara Nayu.