Influencer Mantan Penerima LPDP Pamer Anak Bukan WNI, Dihujat Netizen
Ringkasan Berita:
- Dwi Sasetyaningtyas, influencer dihujat gegara pamer anaknya tak lagi jadi WNI dan kini menjadi warga negara Inggris
- Unggahannya dianggap merendahkan masyarakat Indonesia, terlebih ia merupakan penerima beasiswa LPDP
- Peneliti BRIN, Anggi Afriansyah, meminta pemerintah evaluasi soal penerima LPDP dan lapangan kerja
Pengamat pendidikan sekaligus peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Anggi Afriansyah, menyoroti viralnya unggahan seorang influencer, Dwi Sasetyaningtyas, yang memamerkan anaknya memperoleh status kewarganegaraan Inggris.
Unggahan tersebut menuai kritik tajam dari warganet, karena di saat yang sama, Tyas dianggap merendahkan warga negara Indonesia (WNI).
Kontroversi ini pun semakin memanas ketika publik mengetahui bahwa Tyas adalah penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), program yang digagas oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu).
Beasiswa LPDP sendiri tidak hanya mencakup biaya pendidikan, tetapi juga seluruh kebutuhan selama menempuh studi.
Ironisnya, warganet menilai Tyas sebagai sosok yang tidak menghargai Tanah Air, merendahkan masyarakat Indonesia, sementara secara bersamaan mendapatkan dukungan dari negara.
Selain itu, Tyas juga dianggap belum memberikan kontribusi nyata bagi Indonesia meski telah menerima beasiswa bergengsi tersebut.
Menanggapi fenomena ini, Anggi menjelaskan bahwa “ada aturan di mana penerima beasiswa LPDP harus kembali ke Indonesia dan berkontribusi terhadap negara.”
Ia pun mengakui bahwa Tyas sebenarnya telah berkontribusi selama lima tahun setelah lulus. Informasi ini dapat dilihat dari unggahan di akun media sosial Tyas.
“Betul, (Tyas) sudah mengabdi selama lima tahun dan ada kontribusinya ketika mengikuti media sosialnya. Dia memang sosok yang berkontribusi dalam pengembangan lingkungan dan kemanusiaan,” katanya dikutip dari YouTube tvOne, Jumat (20/2/2026).
Namun, Anggi menganggap perdebatan masyarakat terkait kasus ini bukan hanya berpusat pada Tyas saja.
Suami sang influencer ternyata juga menjadi sorotan setelah ia belum berkontribusi terhadap negara meski sebagai penerima beasiswa LPDP.
Tak tanggung-tanggung, suami Tyas menjadi penerima LPDP untuk studi magister dan doktoral.
“Ketika netizen mengulik, sang suami ternyata penerima LPDP tapi belum balik. Masnya ini (suami Tyas) belum pulang. Ini yang kemudian subject to debate di publik,” ujar Anggi
Isu ‘Brain Drain’ dan Moral
Anggi mengatakan dalam konteks kasus viralnya Tyas, ada dua hal yang patut disoroti yakni terkait fenomena brain drain dan sisi moral dari sang influencer.
Terkait brain drain, dia mengatakan ketika anak dari Tyas resmi berstatus sebagai warga negara Inggris, maka berkuranglah generasi muda yang akan berkontribusi untuk Indonesia.
Tak hanya itu, jika Tyas juga berpindah kewarganegaraan, maka tenaga kerja terampil di Indonesia semakin berkurang.
Padahal, salah satu tujuan diadakannya beasiswa LPDP demi membangun Indonesia oleh para penerimanya.
Ia menyebut hal ini sebenarnya sudah menjadi isu lama yang terus diperdebatkan.
“Brain drain itu artinya perpindahan tenaga kerja berpendidikan dan terampil, keluar, dan tidak kembali ke negara asal. Nah ini akan membuat Indonesia kekurangan tenaga kerja terampil,” ujarnya.
Namun, di sisi lain, Anggi juga mengakui bahwa lapangan kerja di Indonesia masih terbatas ketika di saat yang bersamaan, angkatan kerja semakin banyak termasuk lulusan dari beasiswa LPDP.
Dia pun meminta pemerintah untuk mengevaluasi lagi terkait program beasiswa LPDP, khususnya terkait aturan dan mekanismenya.
“Jadi momen pemerintah untuk mengevaluasi ketika bicara LPDP ini mau seperti apa,” tuturnya.
Lebih lanjut, Anggi juga meminta agar adanya perbaikan struktur lapangan kerja oleh pemerintah agar para lulusan terbaik Indonesia tidak pergi ke luar negeri.
Pasalnya, banyak masyarakat yang sudah mulai berpikir terkait alasan harus memiliki pendidikan tinggi ketika di saat yang bersamaan, lapangan kerja di Indonesia tidak merata.
“Selain struktur pendidikan kita yang diperbaiki, struktur ketenagakerjaan kita harus diperbaiki. Makannya kan orang semakin bertanya ‘sekolah tinggi buat apa sih? jual tanah, jual yang lain, tetapi kok nggak balik ya’,” tegasnya.
Tyas Minta Maaf
Setelah viral, Tyas pun meminta maaf terkait videonya tersebut.
Dia menegaskan unggahan video tersebut merupakan wujud dari kekecewaannya atas apa yang terjadi di Indonesia.
“Sehubungan dengan unggahan saya sebelumnya yang memuat kalimat ‘cukup saja saja yang WNI, anak-anak saya jangan’, dengan ini saya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh masyarakat yang merasa tersakiti, tersinggung, maupun tidak nyaman atas pernyataan tersebut.”
“Pernyataan tersebut lahir sepenuhnya dari rasa kecewa, lelah, dan frustrasi pribadi saya sebagai Warga Negara Indonesia terhadap berbagai kondisi yang saya rasakan,” tulisnya dalam unggahan di akun Instagram pribadinya.
Dia mengakui bahwa pernyataannya yang menyebut agar anaknya saja yang tidak menjadi WNI telah melukai masyarakat.
Tyas juga menyadari perkataannya tersebut bisa dimaknai merendahkan masyarakat Indonesia.
“Melalui pernyataan ini, saya ingin menyampaikan permohonan maaf kepada pihak-pihak yang merasa tersakiti serta atas kegaduhan yang terjadi,” pungkasnya.
(TribunTrends/Tribunnews)
Jangan lewatkan berita-berita tak kalah menarik lainnya di Google News, Threads, dan Facebook