Belajar Rias Pengantin Gagrak Surakarta di Keraton Solo
DI bersejarah di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Sabtu, 7 Maret 2026, ratusan pasang mata memperhatikan setiap detail riasan dan busana pengantin Jawa. Kain, paes (riasan), hingga aksesori tradisional dikenalkan kembali dalam Workshop Pengantin Tradisional Gagrak
Surakarta
yang digelar Pamardi Busono.
Sekitar 150 peserta yang terdiri atas model dan peraga tata rias mengikuti kegiatan yang berlangsung di Kagungan Dalem Sasono Hondrowino tersebut. Workshop ini tak hanya menjadi ruang belajar teknik
tata rias
pengantin, tetapi juga bagian dari upaya menjaga warisan budaya Jawa agar tetap hidup di tengah masyarakat.
Kegiatan itu mendapat perhatian langsung dari Sri Susuhunan Pakubuwono XIV yang hadir menyapa para peserta. Kehadirannya menjadi simbol dukungan Keraton Surakarta terhadap pelestarian tradisi pengantin Gagrak Surakarta, yang dikenal dengan pakem riasan dan busana yang sarat makna filosofi.
Pangarsa Pamardi Busono Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, KRMT Pustokoningrat, mengatakan kegiatan tersebut terselenggara berkat restu Sri Susuhunan Pakubuwono XIV. Ia menyambut para peserta yang datang untuk “sinau bareng” mempelajari tata rias pengantin adat Keraton Surakarta. Menurutnya, workshop ini tidak hanya menjadi ajang berbagi ilmu, tetapi juga bagian dari pembinaan generasi baru di bidang tata busana dan tata rias tradisional.
Pilihan Editor:
Misteri Pengusul Kota Solo Jadi Daerah Istimewa
Dalam kesempatan yang sama, GKR Panembahan Timoer yang turut hadir memberikan apresiasi atas antusiasme peserta. Ia menilai para perias yang datang sebenarnya telah memiliki kemampuan, namun belajar langsung di lingkungan Keraton Surakarta dapat menambah pemahaman tentang standar dan pakem tata rias
pengantin
Gagrak Surakarta.
“Saya yakin panjenengan (Anda) semua sudah sangat memahami tata rias pengantin. Tetapi dengan belajar di Pamardi Busono Karaton ini bisa menambah kompetensi dan keahlian,” kata Gusti Timoer.
Sementara itu, juru bicara Sri Susuhunan Pakubuwono XIV, KPA Singonagoro menyebut kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen
Keraton Surakarta
dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya. Menurut dia, program beasiswa bagi peserta terbaik menjadi bentuk dukungan Keraton Surakarta untuk mencetak generasi penerus yang mampu menjaga pakem adat.
Pengantin Kasatriya
Singonagoro menuturkan tata rias pengantin pakem gaya Surakarta ada 4 macam, yakni pengantin kampuhan atau yang sering disebut Solo basahan, pengantin kapangaranan atau yang disebut pengantin takwo, pengantin kasatriya, dan pengantin langenharjan. “Khusus pada workshop tersebut kami menampilkan pengantin kasatriya,” ungkapnya.
Dia menjelaskan rias pengantin kasatriya memiliki ciri khas mengenakan ukel ageng bangun tulak, paes dengan pidih hitam, kebaya hitam panjang, dan sinjang limaran. Adapun cunduk mentul memakai cunduk mentul sekaran berjumlah tujuh buah.
Workshop tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana Keraton Surakarta tidak hanya menjadi simbol tradisi, tetapi juga ruang belajar terbuka bagi masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, nilai-nilai budaya pengantin Gagrak Surakarta diharapkan terus diwariskan, bukan hanya sebagai ritual pernikahan, tetapi juga sebagai identitas budaya Jawa yang tetap hidup di masa kini.
Salah satu peserta workshop, Fitri, mengaku senang dapat mengikuti kegiatan yang digelar di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat tersebut. Menurutnya, kesempatan belajar langsung tentang tata rias pengantin Gagrak Surakarta menjadi pengalaman berharga bagi para perias.
“Senang sekali bisa ikut workshop ini karena bisa belajar langsung tentang pakem rias pengantin Keraton. Selain menambah ilmu, kami juga merasa ikut ambil bagian dalam melestarikan tradisi budaya Jawa,” ujar Fitri.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus diselenggarakan sehingga semakin banyak generasi muda yang tertarik mempelajari tata rias pengantin tradisional, khususnya gaya Gagrak Surakarta.(red)