Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
LINGKARJATIM.MY.ID LINGKARJATIM.MY.ID

Akurat, Berimbang, Terpercaya

LINGKARJATIM.MY.ID LINGKARJATIM.MY.ID

Akurat, Berimbang, Terpercaya

  • HOME
  • PERISTIWA | HUKUM
  • PENDIDIKAN | KESEHATAN
  • POLITIK | PEMERINTAHAN
  • SOSIAL | BUDAYA
  • ENTERTAINMENT
  • LIFE STYLE
  • NEWS
  • KONTAK
  • HOME
  • PERISTIWA | HUKUM
  • PENDIDIKAN | KESEHATAN
  • POLITIK | PEMERINTAHAN
  • SOSIAL | BUDAYA
  • ENTERTAINMENT
  • LIFE STYLE
  • NEWS
  • KONTAK
Close

Search

  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
NEWS

7 Hal yang Dilakukan Orang Tua di Kedai Kopi, Buktikan Mereka Paham Tata Krama Era Lama

By LINGKARJATIM
Januari 31, 2026 3 Min Read
0



– Masuklah ke sebuah kedai kopi modern—dengan menu berbahasa asing, barista bertato, dan orang-orang yang sibuk menatap layar—lalu perhatikan baik-baik pelanggan yang berusia di atas 65 tahun.

Tanpa perlu bertanya usia atau latar belakang, sering kali kita bisa langsung tahu: mereka dibesarkan dalam zaman dengan standar tata krama yang berbeda. Bukan lebih baik atau lebih buruk, hanya berbeda. Dan perbedaan itu terlihat jelas dari hal-hal kecil yang mereka lakukan.

Dilansir dari Geediting pada Rabu (28/1), terdapat tujuh kebiasaan yang sering muncul di kedai kopi, yang diam-diam menjadi penanda generasi.


1. Menyapa Semua Orang, Bukan Hanya yang Dikenal

Orang berusia di atas 65 tahun hampir selalu masuk kedai kopi dengan sapaan. Bukan hanya kepada teman yang kebetulan ada di sana, tetapi juga kepada kasir, barista, bahkan pelanggan lain yang berdiri di dekat pintu. “Selamat pagi” atau “Siang, ramai ya hari ini” meluncur begitu saja.

Bagi generasi mereka, menyapa adalah bentuk penghormatan dasar—pengakuan bahwa orang lain hadir dan layak dihargai. Di era yang lebih individualistis, kebiasaan ini bisa terasa kuno, tapi juga hangat. Seolah mereka berkata: kita berada di ruang yang sama, mari bersikap manusiawi.


2. Mengucapkan Terima Kasih Berlapis

Ketika pesanan datang, mereka tidak hanya mengucapkan terima kasih sekali. Ada “terima kasih” saat memesan, “terima kasih” saat menerima kopi, dan sering kali “terima kasih ya, Nak” ketika hendak duduk.

Ini bukan basa-basi berlebihan, melainkan hasil didikan di masa ketika sopan santun diulang-ulang sampai menjadi refleks. Mengucapkan terima kasih bukan respons otomatis, tapi ekspresi kesadaran bahwa seseorang telah meluangkan tenaga untuk kita.


3. Duduk dengan Sikap “Tertib Ruang Publik”

Mereka jarang menggeser kursi sembarangan atau meletakkan barang hingga memakan ruang orang lain. Tas disimpan rapi, tongkat disandarkan hati-hati, jaket dilipat. Bahkan saat kedai sepi, mereka tetap duduk seolah ruang itu milik bersama.

Ini menunjukkan pemahaman lama tentang ruang publik: tempat umum bukan perpanjangan dari ruang pribadi. Ada batas tak tertulis yang harus dijaga demi kenyamanan semua orang.


4. Berbicara dengan Volume yang Disadari

Jika mereka datang bersama teman, percakapan berlangsung jelas tapi tidak mendominasi ruangan. Tawa tetap tawa, cerita tetap cerita, tapi volumenya terkontrol. Mereka tampak sadar bahwa ada telinga lain di sekitar.

Di masa mereka dibesarkan, berbicara terlalu keras di tempat umum sering dianggap tidak tahu adat. Kesadaran akan “didengar orang lain” masih melekat kuat, bahkan di tengah budaya sekarang yang lebih permisif terhadap kebisingan.


5. Menunggu dengan Sabar Tanpa Drama

Ketika pesanan terlambat, mereka jarang mengeluh keras atau menunjukkan ekspresi kesal berlebihan. Mereka menunggu. Melihat sekitar. Kadang berbincang dengan orang di sebelahnya. Jika bertanya pun, nada suaranya tetap sopan.

Kesabaran ini lahir dari zaman ketika pelayanan tidak serba instan dan orang terbiasa menyesuaikan diri, bukan sebaliknya. Menunggu bukan dianggap kerugian pribadi, melainkan bagian wajar dari kehidupan.


6. Menghormati Pekerja dengan Bahasa yang Lebih Personal

Banyak dari mereka memanggil barista dengan sebutan “Mas”, “Mbak”, atau bahkan “Nak”. Bukan untuk merendahkan, tetapi sebagai bentuk keakraban dan hierarki sopan santun yang mereka pahami.

Bagi generasi ini, menghormati pekerja jasa berarti bersikap ramah dan mengakui peran mereka secara verbal. Ada nuansa keorangtuaan yang kadang terasa janggal bagi generasi muda, tapi niat dasarnya sering kali tulus.


7. Berpamitan Saat Pergi

Inilah tanda paling jelas. Ketika selesai, mereka tidak bangkit dan pergi begitu saja. Ada anggukan ke arah kasir, senyum kecil ke barista, atau ucapan singkat: “Terima kasih, ya. Kopinya enak.”

Berpamitan adalah penutup interaksi—cara sopan untuk mengatakan bahwa hubungan sosial kecil itu, betapapun singkat, telah selesai dengan baik. Di era lama, pergi tanpa pamit dianggap kurang ajar. Nilai itu masih mereka bawa hingga kini.

Orang berusia di atas 65 tahun di kedai kopi sering kali terlihat “berbeda”, bukan karena mereka tak mengikuti zaman, tetapi karena mereka membawa aturan tak tertulis dari masa lalu. Aturan yang menekankan kesadaran sosial, penghormatan, dan keterhubungan antar manusia.

Di tengah dunia yang semakin cepat dan efisien, kebiasaan-kebiasaan ini bisa terasa lambat. Tapi mungkin, sesekali, kedai kopi memang membutuhkan sedikit kelambatan—agar kita ingat bahwa di balik secangkir kopi, selalu ada manusia lain yang patut diperlakukan dengan hormat.

Tags:

SOSIAL | BUDAYA
Author

LINGKARJATIM

Follow Me
Other Articles
Previous

Apa Perbedaan Flat dan Apartemen?

Next

Retreat Demokrat Jatim, SBY Minta Kader Lebih Dekat dan Hadirkan Solusi bagi Rakyat

No Comment! Be the first one.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tentang Situs Ini

Lingkarjatim.my.id merupakan portal informasi yang menghadirkan berita, cerita, dan berbagai topik menarik dari Jawa Timur hingga seantero Nusantara bahkan Sejagat Raya, dikemas secara informatif dan mudah diakses oleh masyarakat.

Cari

Pos Terkini

  • Reses DPRD Jatim di Tuban, Sri Wahyuni Dorong Percepatan Infrastruktur dan Penguatan Sektor Pertanian
  • Dari Kekeringan hingga Jalan Rusak, Ini Deretan Aspirasi Warga Bojonegoro ke Sri Wahyuni
  • Wakil Ketua DPRD Jatim Sri Wahyuni Kawal Aspirasi Warga Sambiroto Bojonegoro
  • Siswi SMAN 1 Bubulan Bojonegoro Juara Nasional Robot, Wakil Ketua DPRD Jatim Beri Apresiasi
  • Dukung Ketahanan Pangan, Bupati Salurkan Bantuan Sarana Prasarana dan Perlindungan Tanaman.

Temukan Kami

Alamat
Jl. Jend. Sudirman 8
Jakarta Pusat, Jakarta 10110

Jam Buka
Senin—Jumat: 09:00–17:00
Sabtu & Minggu: 11:00–15:00

Tentang Situs Ini

Ini bisa jadi ruang yang tepat untuk memperkenalkan diri dan situs Anda, atau menuliskan daftar penghargaan.

Pos Terkini

  • Reses DPRD Jatim di Tuban, Sri Wahyuni Dorong Percepatan Infrastruktur dan Penguatan Sektor Pertanian
  • Dari Kekeringan hingga Jalan Rusak, Ini Deretan Aspirasi Warga Bojonegoro ke Sri Wahyuni
  • Wakil Ketua DPRD Jatim Sri Wahyuni Kawal Aspirasi Warga Sambiroto Bojonegoro
  • Siswi SMAN 1 Bubulan Bojonegoro Juara Nasional Robot, Wakil Ketua DPRD Jatim Beri Apresiasi
  • Dukung Ketahanan Pangan, Bupati Salurkan Bantuan Sarana Prasarana dan Perlindungan Tanaman.
Copyright 2026 — LINGKARJATIM.MY.ID. All rights reserved.