10 Ungkapan Jujur yang Sering Diucapkan Orang Brilian saat Dikelilingi Orang-orang yang Tidak Sepemi
Tidak semua orang memiliki cara pandang, pola pikir, dan cara menyelesaikan masalah yang sama.
Dalam lingkungan kerja, pertemanan, maupun keluarga, perbedaan pendapat kerap memunculkan kesalahpahaman.
Bagi orang yang terbiasa berpikir kritis, situasi ini bisa terasa melelahkan, terutama ketika percakapan berubah menjadi perdebatan tanpa arah atau ketika pendapat disampaikan tanpa dasar yang jelas.
Namun, kecerdasan tidak selalu ditunjukkan dengan kemampuan membantah orang lain atau memenangkan argumen.
Orang yang mampu mengelola emosinya justru cenderung memilih kata-kata secara hati-hati, mengajukan pertanyaan untuk memahami sudut pandang berbeda, serta menetapkan batasan ketika percakapan mulai tidak sehat. Mereka dapat bersikap jujur tanpa harus merendahkan orang lain.
Dilansir dari Your Tango, ada sejumlah ungkapan yang dapat digunakan orang-orang yang berpikir kritis ketika menghadapi lingkungan yang tidak sejalan dengan pemikiran mereka.
Ungkapan tersebut bukan bukti mutlak bahwa seseorang lebih cerdas daripada orang lain, tetapi dapat mencerminkan keterampilan komunikasi, keterbukaan pikiran, dan kemampuan menjaga diri saat menghadapi perbedaan.
1. “Bantu Saya Memahami Bagaimana Anda Sampai pada Kesimpulan Itu”
Ungkapan ini menunjukkan bahwa seseorang tidak ingin langsung menolak pendapat yang berbeda. Alih-alih menganggap pemikiran orang lain keliru sejak awal, ia memilih mencari tahu proses yang mendasari kesimpulan tersebut. Cara ini penting karena sebuah pendapat sering kali terbentuk dari pengalaman, informasi, asumsi, atau nilai yang berbeda.
Orang yang terbiasa berpikir kritis memahami bahwa mendengar suatu pendapat tidak sama dengan menyetujuinya. Dengan meminta penjelasan, mereka memberikan kesempatan kepada lawan bicara untuk menjabarkan alasan di balik pemikirannya. Pada saat yang sama, mereka juga memperoleh informasi tambahan sebelum menentukan sikap.
Ungkapan tersebut dapat membantu percakapan tetap berada dalam jalur yang produktif. Ketika seseorang merasa pendapatnya langsung diserang, ia mungkin menjadi defensif dan sulit menerima masukan. Sebaliknya, pertanyaan yang disampaikan dengan tenang dapat membuka ruang dialog, terutama jika disertai sikap mendengarkan dan tidak memotong pembicaraan.
Meski demikian, nada bicara tetap menentukan bagaimana kalimat ini diterima. Jika disampaikan dengan ekspresi mengejek atau intonasi merendahkan, pertanyaan yang sebenarnya netral dapat terdengar seperti sindiran. Karena itu, penting untuk menunjukkan rasa ingin tahu yang tulus, bukan menggunakan pertanyaan sebagai cara terselubung untuk mempermalukan orang lain.
Dalam situasi ketika perbedaan pendapat terasa tajam, ungkapan ini dapat membantu mengalihkan perhatian dari pertentangan pribadi menuju alasan yang mendasari suatu gagasan. Percakapan pun berpeluang berkembang menjadi proses saling memahami, bukan sekadar ajang membuktikan siapa yang paling benar.
2. “Mari Beri Diri Kita Waktu untuk Memikirkan Hal Ini”
Tidak semua perbedaan pendapat harus diselesaikan saat itu juga. Ada situasi ketika emosi mulai meningkat, informasi belum lengkap, atau kedua pihak terlalu sibuk mempertahankan argumen masing-masing. Dalam kondisi seperti ini, orang yang mampu mengelola dirinya dapat memilih berhenti sejenak daripada terus melanjutkan perdebatan.
Ungkapan “mari beri diri kita waktu untuk memikirkan hal ini” memperlihatkan kesadaran bahwa keputusan dan tanggapan yang baik membutuhkan kejernihan berpikir. Seseorang tidak harus langsung memberikan jawaban hanya karena dituntut untuk merespons. Ia berhak mengambil waktu untuk menilai informasi, memahami perasaannya, dan mempertimbangkan kemungkinan yang sebelumnya terlewat.
Sikap tersebut juga dapat mencegah percakapan berubah menjadi pertengkaran. Ketika seseorang merasa diserang, respons spontan sering kali lebih dipengaruhi emosi daripada pertimbangan yang matang. Jeda memberi kedua pihak kesempatan untuk menenangkan diri dan kembali membicarakan masalah dengan pendekatan yang lebih rasional.
Meski demikian, mengambil jarak bukan berarti menghindari tanggung jawab. Jika persoalan tersebut penting, sebaiknya ada kejelasan mengenai kapan pembicaraan akan dilanjutkan. Dengan demikian, jeda tidak berubah menjadi cara untuk menggantungkan masalah atau mengabaikan pihak lain.
Ungkapan ini relevan ketika seseorang menghadapi orang-orang yang terus memaksakan pendapat atau menuntut keputusan cepat. Daripada membalas dengan kata-kata tajam, ia memilih mengatur ritme percakapan. Kemampuan mengenali kapan harus berbicara dan kapan perlu berhenti merupakan bagian penting dari komunikasi yang matang. Tujuannya bukan menunjukkan bahwa dirinya lebih unggul, melainkan memastikan pembicaraan tidak kehilangan arah akibat emosi sesaat.
3. “Mari Jangan Membuat Asumsi Terlebih Dahulu”
Asumsi sering menjadi sumber utama kesalahpahaman. Seseorang dapat menganggap dirinya memahami maksud orang lain, padahal informasi yang dimiliki belum cukup. Dalam percakapan yang melibatkan perbedaan pandangan, asumsi yang tidak diperiksa dapat membuat masalah sederhana berkembang menjadi konflik yang lebih besar.
Ungkapan “mari jangan membuat asumsi terlebih dahulu” mengajak semua pihak membedakan fakta, dugaan, dan interpretasi pribadi. Seseorang mungkin merasa yakin terhadap penilaiannya, tetapi keyakinan tidak otomatis membuat penilaian tersebut benar. Orang yang berpikir kritis biasanya perlu mempertimbangkan bukti yang tersedia serta kemungkinan bahwa informasi yang dimilikinya belum lengkap.
Kalimat ini juga dapat membantu menjaga diskusi agar tidak bergeser menjadi serangan terhadap karakter seseorang. Ketika pendapat ditanggapi dengan tuduhan mengenai motif atau kepribadian pembicaranya, inti persoalan sering kali justru terlupakan. Dengan kembali memeriksa fakta, percakapan dapat diarahkan pada hal yang benar-benar sedang dibahas.
Dalam penerapannya, ungkapan ini sebaiknya disampaikan secara inklusif. Menggunakan kata “kita” dapat mengurangi kesan bahwa hanya satu pihak yang dianggap keliru. Semua orang, termasuk mereka yang memiliki pengetahuan luas, tetap berpotensi salah memahami situasi atau menarik kesimpulan terlalu cepat.
Orang yang berani mengingatkan agar tidak membuat asumsi bukan berarti selalu memiliki jawaban paling tepat. Sikap tersebut justru menunjukkan kesediaan untuk menunda penilaian sampai bukti yang relevan tersedia. Dalam lingkungan kerja maupun hubungan pribadi, kebiasaan memeriksa informasi sebelum bereaksi dapat membantu menciptakan komunikasi yang lebih adil, akurat, dan terbuka terhadap koreksi.
4. “Mari Fokus pada Hal-hal yang Bisa Kita Kendalikan”
Perdebatan dapat menjadi tidak produktif ketika pembicaraan terus berputar pada kesalahan masa lalu, tindakan orang lain, atau berbagai kemungkinan yang tidak dapat diubah. Dalam keadaan tersebut, seseorang bisa menghabiskan banyak energi untuk mengeluhkan keadaan tanpa menemukan langkah yang dapat dilakukan.
Ungkapan “mari fokus pada hal-hal yang bisa kita kendalikan” membantu mengembalikan percakapan kepada persoalan yang lebih konkret. Kalimat ini bukan berarti mengabaikan masalah yang lebih luas, melainkan membedakan hal yang dapat ditindaklanjuti dari hal yang berada di luar jangkauan seseorang.
Misalnya, dalam diskusi pekerjaan, anggota tim mungkin memiliki pandangan berbeda mengenai penyebab suatu proyek terlambat. Jika pembicaraan hanya berisi saling menyalahkan, penyelesaian masalah akan semakin sulit. Dengan mengarahkan diskusi pada prioritas, pembagian tugas, dan keputusan yang masih bisa dibuat, tim memiliki peluang lebih besar untuk bergerak maju.
Ungkapan ini juga berguna saat menghadapi orang yang cenderung memperpanjang konflik. Ketika percakapan mulai melebar ke persoalan yang tidak berkaitan, mengembalikannya pada tujuan awal dapat membantu menjaga fokus. Orang yang menggunakannya tidak harus menyangkal bahwa ada masalah lain; ia hanya memilih menentukan urutan persoalan yang perlu dibahas.
Meski terdengar sederhana, kalimat ini membutuhkan kesabaran. Tidak semua orang langsung bersedia meninggalkan kebiasaan menyalahkan atau membicarakan hal di luar kendali. Karena itu, penyampaiannya perlu dilakukan tanpa meremehkan kekecewaan pihak lain.
Kematangan berpikir terlihat dari kemampuan membedakan antara mengakui masalah dan terjebak di dalamnya. Dengan mengutamakan hal yang dapat diperbaiki, seseorang menunjukkan bahwa percakapan seharusnya menghasilkan pemahaman atau kemajuan, bukan sekadar memperpanjang ketegangan.
5. “Apa Maksud Anda dengan Pernyataan Itu?”
Tidak semua pernyataan memiliki makna yang langsung dipahami oleh setiap orang. Sebuah kalimat dapat ditafsirkan berbeda bergantung pada pengalaman, konteks, dan cara penyampaiannya. Karena itu, orang yang berhati-hati dalam berkomunikasi tidak selalu buru-buru membantah pernyataan yang terdengar janggal. Mereka dapat memilih meminta penjelasan terlebih dahulu.
Ungkapan “apa maksud Anda dengan pernyataan itu?” memberi kesempatan kepada lawan bicara untuk memperjelas gagasannya. Pertanyaan ini membantu membedakan apakah perbedaan yang muncul memang berkaitan dengan prinsip, atau justru disebabkan oleh penggunaan istilah yang berbeda dan informasi yang belum lengkap.
Dalam percakapan yang memanas, kebiasaan meminta klarifikasi juga dapat mencegah kesalahpahaman semakin jauh. Seseorang mungkin menganggap ucapan orang lain sebagai kritik pribadi, padahal maksud awalnya membahas suatu tindakan atau keputusan. Dengan memastikan maksud sebenarnya, kedua pihak bisa mengurangi risiko merespons sesuatu yang tidak pernah dimaksudkan.
Bagi orang yang terbiasa menganalisis informasi, pertanyaan klarifikasi merupakan bagian penting dari proses berpikir. Mereka tidak hanya menilai kesimpulan akhir, tetapi juga ingin mengetahui alasan, definisi, dan konteks yang digunakan untuk sampai pada kesimpulan tersebut. Sikap ini membuat diskusi lebih terarah karena setiap pihak memiliki pemahaman yang lebih jelas mengenai persoalan yang sedang dibicarakan.
Namun, cara penyampaian perlu diperhatikan. Jika dilontarkan dengan nada sinis, pertanyaan yang seharusnya membantu justru bisa dianggap sebagai tantangan. Sebaliknya, nada tenang dan sikap mendengarkan dapat menunjukkan bahwa pertanyaan tersebut benar-benar bertujuan memperoleh kejelasan.
Ungkapan ini bukan tanda bahwa seseorang tidak mampu memahami pembicaraan. Justru, kesediaan untuk bertanya sebelum mengambil kesimpulan dapat menjadi bentuk kehati-hatian intelektual. Dalam menghadapi orang-orang yang berbeda pandangan, memahami maksud pernyataan merupakan langkah penting sebelum memutuskan apakah sebuah gagasan perlu diterima, dikritik, atau ditolak.
6. “Kita Boleh Tidak Sepakat, dan Itu Tidak Masalah”
Sebagian orang menganggap perbedaan pendapat sebagai ancaman terhadap hubungan atau tanda bahwa salah satu pihak tidak menghormati pihak lainnya. Akibatnya, diskusi yang awalnya sederhana dapat berubah menjadi upaya untuk memaksa orang lain menerima suatu pandangan. Padahal, tidak semua perbedaan harus berakhir dengan kesepakatan.
Ungkapan “kita boleh tidak sepakat, dan itu tidak masalah” menunjukkan bahwa seseorang mampu memisahkan perbedaan gagasan dari penilaian terhadap pribadi. Dua orang dapat memiliki keyakinan, pengalaman, atau prioritas yang berbeda tanpa harus saling merendahkan. Pengakuan ini membuat ruang percakapan terasa lebih terbuka karena setiap pihak tidak harus mengorbankan pendiriannya hanya demi mengakhiri perdebatan.
Sikap tersebut bukan berarti semua pendapat memiliki kekuatan bukti yang sama. Dalam persoalan faktual, klaim tetap perlu diperiksa berdasarkan informasi yang dapat dipercaya. Namun, dalam persoalan yang melibatkan preferensi, nilai pribadi, atau penafsiran, perbedaan bisa saja tetap ada meskipun semua pihak telah menjelaskan alasannya.
Orang yang menggunakan ungkapan ini juga menunjukkan kesediaan untuk mengakui batas pengaruhnya terhadap orang lain. Ia dapat menjelaskan sudut pandangnya, mendengarkan tanggapan, dan memberikan alasan, tetapi tidak selalu dapat mengubah keyakinan lawan bicara. Menyadari batas tersebut membantu seseorang menghindari perdebatan tanpa akhir.
Kalimat ini sangat berguna ketika percakapan mulai berulang dan kedua pihak terus mengulang argumen yang sama. Daripada memaksakan kesepakatan, mereka dapat mengakui perbedaan dan menentukan apakah masih ada hal yang perlu dibahas.
Kemampuan menerima ketidaksepakatan merupakan bagian dari komunikasi yang sehat. Seseorang tidak harus menang dalam setiap diskusi untuk tetap mempertahankan prinsipnya. Terkadang, menghormati perbedaan dan mengetahui kapan harus berhenti justru lebih bermanfaat daripada memaksakan persetujuan.
7. “Saya Ingin Memahami, Bukan Sekadar Memenangkan Perdebatan”
Dalam diskusi yang penuh ketegangan, tujuan percakapan dapat berubah tanpa disadari. Awalnya, setiap orang mungkin ingin menemukan jawaban atau menyelesaikan masalah. Namun, ketika ego mulai mengambil alih, fokusnya bergeser menjadi keinginan untuk membuktikan bahwa pendapat sendiri paling benar.
Ungkapan “saya ingin memahami, bukan sekadar memenangkan perdebatan” mengingatkan bahwa komunikasi tidak semestinya hanya berorientasi pada kemenangan. Seseorang yang menggunakan kalimat ini berusaha menempatkan pemahaman sebagai tujuan utama, sehingga ia tetap memiliki ruang untuk mendengarkan informasi baru dan mempertimbangkan pandangan yang berbeda.
Sikap tersebut membutuhkan keterbukaan terhadap kemungkinan bahwa pemikiran sendiri belum sempurna. Orang yang berpikir kritis tidak selalu harus mengubah pendapatnya setiap kali mendengar argumen baru, tetapi ia perlu bersedia memeriksa apakah argumen tersebut memiliki dasar yang masuk akal. Jika bukti yang lebih kuat muncul, memperbaiki pandangan bukanlah kekalahan, melainkan bagian dari proses belajar.
Ungkapan ini juga dapat menurunkan ketegangan karena menggeser suasana dari persaingan menjadi pertukaran informasi. Lawan bicara tidak lagi diperlakukan semata-mata sebagai pihak yang harus dikalahkan, tetapi sebagai seseorang yang memiliki pengalaman dan alasan tersendiri.
Meski begitu, kalimat ini harus selaras dengan perilaku. Jika seseorang mengaku ingin memahami tetapi terus memotong pembicaraan, mengabaikan fakta, atau menertawakan pendapat lain, perkataannya akan kehilangan makna. Kemauan mendengarkan dan menanggapi argumen secara adil menjadi bagian penting dari pesan tersebut.
Di tengah lingkungan yang tidak sepemikiran, orientasi untuk memahami dapat membantu seseorang tetap tenang tanpa kehilangan ketegasan. Ia masih bisa menyampaikan ketidaksetujuan, mengoreksi informasi yang keliru, dan mempertahankan batasan pribadi. Bedanya, semua itu dilakukan untuk memperjelas persoalan, bukan semata-mata untuk memperoleh pengakuan sebagai pihak yang paling benar.
8. “Saya Berharap Kita Bisa Saling Menghormati”
Perbedaan pendapat tidak seharusnya menjadi alasan untuk mempermalukan, meremehkan, atau menyerang seseorang secara pribadi. Namun, ketika diskusi berlangsung di lingkungan yang kompetitif, sebagian orang mungkin menggunakan nada bicara yang merendahkan untuk mempertahankan posisinya. Dalam situasi semacam ini, menetapkan batasan menjadi bagian penting dari komunikasi.
Ungkapan “saya berharap kita bisa saling menghormati” menyampaikan harapan secara jelas tanpa harus membalas perilaku tidak menyenangkan dengan tindakan serupa. Kalimat tersebut mengingatkan bahwa setiap pihak berhak menyampaikan pandangan, tetapi kebebasan itu tetap perlu disertai tanggung jawab untuk memperlakukan orang lain secara pantas.
Orang yang mampu menjaga batasan tidak harus menerima setiap perlakuan demi mempertahankan hubungan. Mereka dapat membedakan kritik terhadap gagasan dan serangan terhadap harga diri. Kritik yang berisi alasan, data, atau masukan relevan masih bisa menjadi bahan pertimbangan. Sebaliknya, ejekan dan penghinaan tidak otomatis menjadi benar hanya karena disampaikan dengan penuh keyakinan.
Ungkapan ini juga membantu mengarahkan kembali percakapan kepada persoalan yang seharusnya dibahas. Jika seseorang merasa diserang secara pribadi, ia dapat mengingatkan bahwa perbedaan pendapat masih dapat disampaikan dengan bahasa yang lebih baik. Dengan demikian, fokus diskusi tidak sepenuhnya dikuasai oleh konflik emosional.
Tentu saja, menyatakan harapan agar saling menghormati tidak menjamin orang lain akan mengubah perilakunya. Ada kalanya seseorang tetap bersikap kasar meskipun batasan sudah disampaikan. Dalam kondisi demikian, mempertimbangkan untuk menghentikan percakapan atau mencari dukungan dari pihak yang berwenang dapat menjadi langkah yang lebih tepat.
Kecerdasan dalam berkomunikasi bukan hanya tentang menemukan argumen yang kuat, tetapi juga memahami kapan suatu perlakuan perlu ditanggapi. Mengutarakan kebutuhan akan rasa hormat dengan tenang menunjukkan bahwa seseorang dapat mempertahankan martabatnya tanpa harus merendahkan orang lain.
9. “Saya Mendengar Pendapat Anda, tetapi Mari Tetap Saling Menghormati”
Ada kalanya seseorang sudah mendengarkan argumen pihak lain, tetapi percakapan tetap berlangsung dalam suasana yang tidak nyaman. Perbedaan pendapat bisa berubah menjadi pertukaran sindiran, suara yang meninggi, atau komentar yang menyerang karakter. Ketika hal itu terjadi, mengakui pendapat orang lain sekaligus mengingatkan pentingnya sikap saling menghormati dapat membantu menjaga batas diskusi.
Ungkapan “saya mendengar pendapat Anda, tetapi mari tetap saling menghormati” memuat dua pesan yang saling melengkapi. Bagian pertama menunjukkan bahwa seseorang bersedia mendengarkan, sedangkan bagian kedua menegaskan bahwa mendengarkan tidak berarti harus menyetujui semua hal atau menerima perlakuan yang tidak pantas.
Dalam komunikasi yang sehat, kemampuan mendengar dan ketegasan dapat berjalan bersamaan. Seseorang bisa memahami alasan di balik pandangan orang lain tanpa mengabaikan penilaiannya sendiri. Ia juga dapat mengakui bahwa lawan bicara memiliki hak untuk berpendapat, sambil tetap meminta agar percakapan tidak berubah menjadi serangan pribadi.
Ungkapan ini sangat relevan dalam diskusi pekerjaan, hubungan pertemanan, maupun percakapan keluarga. Di lingkungan profesional, misalnya, perbedaan gagasan semestinya dinilai berdasarkan isi dan relevansinya, bukan melalui penghinaan terhadap orang yang menyampaikannya. Dalam hubungan pribadi, kemampuan menjaga penghormatan juga dapat membantu mencegah konflik merusak rasa saling percaya.
Meski demikian, ungkapan ini bukan cara untuk membungkam kritik. Seseorang tetap perlu terbuka terhadap masukan yang tidak menyenangkan selama disampaikan secara relevan dan tidak mengandung pelecehan. Batasan yang sehat bukan berarti hanya ingin mendengar hal-hal yang disukai, melainkan meminta agar perbedaan dibicarakan dengan cara yang layak.
Orang yang menggunakan kalimat ini berusaha mempertahankan dua hal sekaligus: keterbukaan terhadap pandangan lain dan penghormatan terhadap dirinya sendiri. Keseimbangan tersebut penting agar kejujuran tidak berubah menjadi kekasaran, sementara kesopanan tidak membuat seseorang harus diam ketika diperlakukan tidak adil.
10. “Untuk Kali Ini, Saya Memilih Tidak Menanggapi”
Tidak semua pernyataan membutuhkan tanggapan. Dalam beberapa situasi, seseorang mungkin menyadari bahwa percakapan tidak lagi menghasilkan pemahaman baru. Argumen yang sama terus diulang, fakta yang disampaikan tidak dipertimbangkan, atau suasana diskusi sudah terlalu emosional untuk menghasilkan pembicaraan yang produktif.
Ungkapan “untuk kali ini, saya memilih tidak menanggapi” menunjukkan bahwa seseorang dapat menentukan kapan perlu berbicara dan kapan lebih baik menahan respons. Sikap diam dalam konteks ini bukan selalu tanda ketidakmampuan membela diri. Bisa jadi, seseorang sedang menilai bahwa melanjutkan perdebatan hanya akan menghabiskan waktu dan energi tanpa memberikan manfaat yang sepadan.
Bagi orang yang terbiasa berpikir secara analitis, memilih tidak menanggapi dapat menjadi cara menjaga fokus. Mereka tidak harus memberikan jawaban terhadap setiap komentar, membantah semua pendapat yang berbeda, atau membuktikan pemahamannya kepada setiap orang. Perhatian dan energi dapat dialihkan pada persoalan yang lebih penting.
Namun, diam tidak selalu menjadi pilihan terbaik. Dalam situasi yang membutuhkan klarifikasi, keputusan, atau pertanggungjawaban, tidak memberikan tanggapan justru dapat memperbesar kesalahpahaman.
Karena itu, penting untuk mempertimbangkan konteks sebelum memilih berhenti berbicara. Jika masalah perlu diselesaikan, menyampaikan bahwa pembicaraan akan dilanjutkan ketika suasana lebih kondusif bisa menjadi pilihan yang lebih jelas.
Ungkapan ini juga tidak seharusnya digunakan untuk menghukum orang lain melalui sikap mendiamkan. Ada perbedaan antara mengambil jeda untuk menjaga ketenangan dan sengaja mengabaikan seseorang agar ia merasa bersalah. Tujuan dan cara penyampaiannya menentukan bagaimana tindakan tersebut memengaruhi hubungan.
Ketika menghadapi lingkungan yang tidak sejalan dengan pemikirannya, seseorang tidak harus terlibat dalam setiap perdebatan. Memilih diam secara sadar dapat menunjukkan kemampuan mengatur respons, selama keputusan itu tidak digunakan untuk menghindari kewajiban atau mengabaikan persoalan penting.
Pada akhirnya, sepuluh ungkapan tersebut memperlihatkan bahwa menghadapi orang-orang yang berbeda pandangan membutuhkan lebih dari sekadar kecerdasan intelektual. Kemampuan mendengarkan, menguji asumsi, mengendalikan emosi, dan menetapkan batasan juga berperan besar dalam menjaga komunikasi tetap sehat.
Orang yang matang dalam berpikir tidak selalu berusaha memenangkan setiap perdebatan. Mereka lebih memilih memahami persoalan, menyampaikan ketidaksetujuan dengan jelas, dan mengetahui kapan sebuah percakapan masih layak dilanjutkan.
***